Saya tinggal dan bekerja di negara saya. Saya merasa aman di tengah-tengah orang-orang yang saya kenal, saya tidak pernah tahu betapa sulitnya hidup bagi pengungsi. Tapi ketidaktahuan saya berubah secara drastis ketika saya bertemu dengan beberapa saudara-saudari dari Eritrea untuk pertama kalinya beberapa tahun lalu.
Pada pertemuan pertama, saya mendengar langsung tentang pengalaman mereka yang menyakitkan. Hati dan mata saya terbuka saat mendengarkan mereka, saya sangat tersentuh mendengar kesaksian dari kaum perempuan.
Pertemuan ini membuahkan persahabatan. Berdasarkan pada saling menghargai, kepercayaan, kasih pada Tuhan dan pada sesama, persahabatan kami menembus batas bahasa dan budaya. Kami menangis, tertawa dan berdoa serta saling menguatkan.
Menggunakan campuran gerakan tangan, ekspresi wajah dan Bahasa Inggris yang terpatah-patah, kami bisa saling mengerti satu dan yang lainnya.
Saya bersimpati dengan Saudara-Saudari terkasih ini ketika merasakan kerinduan yang sangat untuk bisa kembali ke kampung halaman mereka. Sebuah tangisan yang tersembunyi, sangat dalam hingga tak dapat lagi diekspresikan, hanya bisa dirasakan.
Tapi bagi kebanyakan dari mereka, sampai mereka bisa menyembah Tuhan secara terbuka, mereka akan tetap seperti itu. Berjauhan dari segala sesuatu yang akrab dengan mereka, suara-suara, pemandangan, orang-orang bahkan makanan, tidak pernah tahu kapan mereka bisa kembali pulang ke Eritrea.
Setelah menghadiri beberapa pernikahan penduduk lokal Eritrea, banyak dari pasangan yang baru menikah ini terpaksa harus hidup terpisah karena suami-suami yang harus mencari kerja ke luar negeri. Pasangan-pasangan ini terus berharap dan berdoa agar dokumen pengungsi mereka bisa segera diselesaikan pihak pemerintah dan mereka bisa tinggal bersama sebagai satu keluarga.
Saya belajar banyak dan mulai mengagumi perempuan-perempuan dari Eritrea. Mereka pandai berdandan dan bersikap lemah lembut, mereka diberkati dengan warna kulit dan rambut yang indah, mereka menanggung segala kesulitan dan pergumulan dan rasa sepi sebagai pengungsi dalam sikap hati yang tabah dan tenang serta penuh iman.
Saya mengagumi ketabahan mereka, mereka adalah orang-orang yang kuat, kuat dalam iman, kuat dalam kasih akan Tuhan, tidak pernah melepaskan iman percaya pada Juruselamat mereka. Mereka orang-orang yang optimis dan penuh kehidupan, mereka selalu tertawa, sangat dekat satu dengan yang lain dan selalu siap menguatkan dalam masa – masa sulit.
Bagi saya, banyak yang harus dipelajari dari cara mereka menghadapi kesulitan. Kesimpulannya : Saya harus mengakui saya mulai menyukai makanan tradisional mereka – lezat!